Selasa, 19 September 2023

Resensi Buku "Jalan Terjal Menghapus Riba : Advokasi Jurnalis Dalam Konversi Bank Aceh"

Identitas buku

Judul                           : Jalan Terjal Menghapus Riba : Advokasi Jurnalis dalam Konversi Bank Aceh

Tim Penulis                : Muhammad Ifdhal, S.Pd

                                    Muhammad Saman, S. Ag

                                    Munawar AR, S.Sos.I., M.Si

                                    Munawardi Ismail, SH

                                    Ridha Yuadhi, M.Si

                                    Yocerizal, SKH

                                    Zainal Arifin M. Nur, S.Ag99

                                    Dr. Israk Ahmadsyah, B.Ec, M.Ec, M.Sc.

                                    Muhammad Haris Riyaldi,S.Sos.I.,M.Soc.Sc.

Editor                         : Hasan Basri M . Nur

Penertbit                    : Yayasan Warisan Aceh Nusantara (WANSA)

Tebal                         : i-xviii + 1-191

ISBN                         : 978-602-61171-4-4

Katagori Buku         : Non Fiksi

Belum terwujudnya muamalah Islam dalam realita disebabkan kurangnya keyakinan umat Islam atas ajaran agamanya sendiri, sehingga lebih memilih untuk menjalankan muamalah non-Islam. Buku ini berisikan lika liku dan tahapan konversi Bank Aceh yang melibatkan para wartawan, akademisi, praktisi, dan mahasiswa dibawah KWPSI. Lalu pertanyaannya mengapa Bank Aceh?


by : Laila Luthfiah


Bank Aceh adalah Bank milik Pemerintah Provinsi Aceh bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Aceh. Bank tertua di Serambi Mekkah ini didirikan pada tanggal 19 Nopember 1958 di Kutaraja dengan nama NV. Bank Kesejahteraan Atjeh (BKA)

Dalam pendiriannya Bank Aceh telah melakukan perubahan nama dan badan hukum dari tahun ke tahun :

• 19 November 1958   > NV. Bank Kesejahteraan Atjeh (BKA)

• 6 Agustus 1973         > Bank Pembangunan Daerah Istimewa Aceh (BPD IA)

• 5 Februari 1993        > PD. Bank Pembangunan Daerah Istimewa Aceh (PD. BPD IA)

• 7 Mei 1999               > PT. Bank Pembangunan Daerah Istimewa Aceh (PT. Bank BPD Aceh)

• 29 September 2010   > PT. Bank Aceh

• 19 September 2016   > PT. Bank Aceh Syariah

Awalnya, Bank Aceh bukanlah sebuah bank besar. Bahkan tahun 1974 atau tahun pertamanya beroperasi, laba yang diraih Bank Aceh yang ketika itu masih bernama PD Bank Pembangunan Daerah (BPD) Istimewa Aceh ini hanya berkisar Rp 3 juta. Minimnya perolehan laba tersebut lantaran Bank Aceh mewarisi persoalan kredit macet saat masih bernama NV Bank Kesedjahteraan Atjeh. Kecuali giro, tidak ada tabungan masyarakat yang terhimpun.

Bank Aceh terus berkembang hingga pada tahun 1997, total jumlah kantor cabang dan kantor cabang pembantu sudah ada di 14 kabupaten/ kota. Ini belum termasuk kantor kas yang sudah mencapai 18 unit. Sedang kan jumlah karyawan sudah mencapai 464 orang, yang mayoritasnya berpendidikan SMA (Harian Serambi Indonesia, Kamis 15 Agustus 2013).

Pada bank milik pemerintah daerah inilah uang Aceh tersimpan. Seluruh gaji pegawai negeri sipil, penyaluran modal usaha mikro, hingga beasiswa anak yatim di Aceh, disalurkan melalui bank ini. Artinya, selama bank daerah ini belum syariah, mayoritas aktivitas keuangan di Aceh belum terbebas dari praktik riba.

Setiap proses transaksi keuangan dan penempatan dana-dana pembangunan Pemerintah Aceh seperti Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mulai saat ini (2015) wajib menggunakan lembaga keuangan atau bank yang berprinsip syariah. Kewajiban yang sama juga berlaku untuk anggaran milik 23 pemerintah kabupaten/kota seperti APBK yang harus ditempatkan pada bank syariah. Hal ini merupakan perintah dari Qanun atau Peraturan Daerah (Perda) Aceh Nomor 8 tahun 2014 tentang Pokok-Pokok Syariat Islam yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) September tahun 2014.

Dari serangkaian kegiatan pengajian, workshop, dan diskusi yang dilaksanakan Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) yang diperoleh sebuah kesimpulan bahwa, penghapusan praktik riba, adalah merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan Syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) di Aceh.

Tahapan Advokasi pun disusun, dimulai dari bebagai workshop, pengajian serta kampanye anti riba yang dilakukan oleh KWPSI. Awalnya para aktivis KWPSI merancang dan menargetkan untuk pemandirian (spin off) Unit Usaha Syariah (USS) Bank Aceh. Namun dalam perjalanannya, ide untuk memisahkan Unit Usaha Syariah Bank Aceh agar berdiri sendiri melebar hingga memunculkan ide untuk mengubah total (konversi) Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah.  Lalu dilanjutkan dengan mendekati dan meminta izin dari Otoritas Jasa Keungan (OJK) hingga melobi DPRA, dan Gubernur Aceh.

Maka pada tanggal  19 September 2016 perubahan secara menyeluruh mulai dioperasikan. Dan pada Senin, 3 Oktober 2016, Gubernur Aceh (pada masa itu) Dr H Zaini Abdullah melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Dermawan meresmikan konversi Bank Aceh yang awalnya merupakan bank konvensional menjadi Bank Aceh Syariah di Anjong Mon Mata Banda Aceh. 



Pengertian dan Jenis Jenis Berita

DOSEN PENGAMPU: Hasan Basri, M. Ag.   KELOMPOK 1 : Fathin Hamami           (220401039) Illiyin Mahlil               (220401040) D...